|
Masa depan rumput laut nasional mungkin berubah. Peluang ini terbuka seiring program Kementerian Perindustrian bekerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan industri hilir rumput laut (Kompas, 06/01/2010).
Untuk menunjang program tersebut, telah diwacanakan pelarangan ekspor rumput laut mulai 2014. Rencana ini perlu dicermati, karena banyak persoalan yang harus dicarikan solusinya. Upaya membangun industri hilir komoditas ini, mesti seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Rumput laut salah satu andalan revitalisasi perikanan. Dengan panjangnya garis pantai negeri ini, tersedia potensi lahan sekitar 1,1 juta ha. Baru 20% lahan tergarap.
Prospek pasar komoditas ini cerah. Sebab mudah dibudidayakan, kebutuhannya pun besar. Kebutuhan global rumput laut jenis Eucheuma 236.000 ton kering per tahun, baru dipenuhi 145.000 ton. Untuk jenis Gracilaria, bahan pembuatan agar-agar, 96.000 ton, baru diproduksi 48.500 ton kering per tahun. Saat ini, produksi rumput laut kering dunia berkisar 1,2 juta ton. Sekitar 50 persen dari Indonesia dan 35 persen dari Filipina.
Rumput laut Indonesia diekspor ke Denmark, China, Filipina, Hongkong, Spanyol, Jepang, dan Amerika Serikat, sebagai bahan pangan, obat, dan kosmetika. Ekspor terbesar masih berupa rumput laut kering. Nilainya menyumbang 36% dari total ekspor perikanan yang mencapai Rp 30 triliun. Adapun rumput laut jenis Eucheuna cottonii hampir 90% diekspor berbentuk chips atau tepung, sehingga nilai tambahnya kecil. Komentar | Favorit (46) | Kutip artikel | Hits: 286 |