|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Wednesday, 20 February 2008 |
|
Masih ingatkah kita pada kasus… Bakso tikus yang dijual dengan nama bakso sapi... Sejumlah Marsh mallow import yang beredar di Indonesia , mengandung gelatin yg ternyata dari babi Belum lagi ayam potong yg dijual di sejumlah pasar tradisional Indonesia, ternyata ayam mati kemaren alias bangkai!!! Dan masih banyak lagi kasus yang masih belum terungkap… namun kasus tersebut sudah membuat dunia bisnis pangan menjadi ”gonjang-ganjing” Konsumen harus lebih waspada dalam membeli bahan pangan... pengusaha pangan harus tau tips dan trick untuk mengembalikan kepercayaan konsumen, pihak pemerintah pun harus ikut andil dalam Penegakan Regulasi Pangan Halal di Era Perdagangan Bebas Seminar Nasional + + lomba poster dan pameran pangan “Halal Food for Global Market” Widyaloka Convention Hall, Universitas Brawijaya Malang, 13 Maret 2008 Jam :08.00 WIB
Pemateri : Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian, Departemen Pertanian Republik Indonesia Prof. Dr. H. Sugijanto, Apt, MS (Ketua LPPOM Jawa Timur) Puspo Wardhoyo, (Pemilik Ayam Bakar Wong Solo)* Komentar (4) | Favorit (122) | Kutip artikel | Hits: 1959 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Wednesday, 20 February 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
| |
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Wednesday, 20 February 2008 |
|
Oleh: Sucipto* Kondisi ketahanan pangan bangsa Indonesia di awal 2008 ini sungguh memprihatinkan. Indonesia yang kaya sumber daya alam, dengan tanah yang subur dan laut yang luas, mestinya menjadi negeri agraris dan maritim yang handal. Namun hingga saat ini masih menjadi negara pengimpor produk pertanian terbesar di dunia. Hal ini terlihat dari menurunnya tingkat produktivitas beberapa komoditas penting seperti kedelai, tebu, beras dan cepatnya konversi lahan pertanian untuk keperluan lain. Bila terus terjadi maka Indonesia benar-benar masuk dalam jebakan pangan (food trap), yang akan memperlemah ketahanan nasional. Kekawatiran ini ternyata sekarang terjadi sehingga harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga berbasis pertanian sudah di dikendalikan oleh negara lain.
Komentar | Favorit (108) | Kutip artikel | Hits: 1565 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Thursday, 27 March 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Wednesday, 30 January 2008 |
|
Oleh : dr. Nurul Muzayyanah* Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada anaknya. Sang ibunda yang biasanya sangat sibuk dengan kegiatan sosialnya mendapatkan anaknya dalam keadaan sakaw di kamarnya. Keadaan itu tidak sengaja diketahui ketika tiba-tiba ibu membatalkan agenda kegiatannya dan bermaksud kembali kerumah tanpa memberitahukan kepulangannya kepada anak-anaknya. Yang paling memilukan bagi sang ibu adalah ternyata kesibukannya dalam kegiatan pemberantasan anti narkoba kini mendapatkan anaknya sendiri telah menjadi budak benda haram tersebut.Ya Tuhan…. Itulah sekelumit cerita yang memberi kesan kepada kita ternyata narkoba tidak hanya menjadi momok sekelompok masyarakat pemuja dunia gemerlap, keluarga broken home, remaja yang terjebak dengan pergaulan bebas, para penjaja seks tapi juga menyentuh keluarga tradisional (lengkap ortunya), keluarga dengan status pendidikan yang cukup serta keluarga dengan religius yang tinggi.
Komentar (4) | Favorit (78) | Kutip artikel | Hits: 2295 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Wednesday, 06 February 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Sunday, 18 November 2007 |
 Halal, bukan hanya tidak mengandung babi. Banyak bahan-bahan yang haram untuk dikonsumsi, misalnya arak, minuman yang mengandung alkohol, binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Namun, tidak semua muslim di Batam belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk ini. Sehingga, kesadaran umat Islam untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang halal dan thoyib ini masih rendah.
Pemilik Audya Seow Cake & Bakery Shop, Belia Van Sarbinas mengatakan banyak masyarakat Batam yang masih menggunakan rum untuk pembuatan kue seperti black forest. Padahal, ia telah menyarankan kepada pelanggan untuk menggunakan bahan pengganti yang telah bersertifikat halal. ’’Namun mereka masih ngotot untuk menggunakan bahan yang menggunakan rum untuk bahan kuenya. Sehingga kue yang dibuat tersebut otomatis menjadi haram untuk dikonsumsi,’’ paparnya.
Komentar | Favorit (81) | Kutip artikel | Hits: 1139 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Saturday, 08 August 2009 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Wednesday, 16 January 2008 |
|
Oleh : Sucipto, STP.MP.**
Sesungguhnya Allah baik dan tidak mengabulkan (menerima) kecuali yang baik-baik.
Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada Rasul, seperti firmanNya dalam QS Al-Mukminun: 52 “ Hai Rosul-rosul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakan amalan yang shalih”. Allah juga berfirman dalam QS Al-Baqarah 172
“Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rizki yang baik-baik” Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit
seraya berseru “Ya Robby, Ya Robby, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu, bagaimana Allah akan mengabulkan doanya? (HR Muslim)
Pendahuluan
Sebagai seorang muslim atau muslimah tentu menyadari akan tuntutan
menggunakan produk halalan thoyibban. Namun kesadaran saja belumlah cukup untuk dapat menjalankan tuntutan tersebut. Masyarakat umumnya belum menyadari bahwa
produk subhat atau bahkan haram mengepung di
sekeliling tempat tinggalnnya. Bahkan tidak sedikit anggapan jika tidak ada alkohol dan babi yang tercampur
maka produk dikatakan halal. Apalagi obat dan kosmetika, kebanyakan hanya berfikir bagaimana cepat sembuh atau tampil dengan cantik.
Kenapa hal ini terjadi ? Diantaranya karena banyaknya produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika yang beredar tidak jelas kehalalannya (tidak bersertifikat halal). Kalau kita pergi ke rumah makan atau
restoran juga belum banyak yang bersertifikat halal, bahkan kalau tertulis halal 100% masih menimbulkan pertanyaan siapa yang menghalalkan tersebut ? Lembaga yang berwenang atau buat tulisan sendiri.
Data menunjukkan produk bersertifikat halal hingga Juli 2006 baru
mencapai 3.734 produk dari lebih dari 1 juta jenis, sedangkan pada Juli 2007
meningkat menjadi 16.040 produk pangan dari 874 Perusahaan yg disertifikasi halal, dan baru 5 perusahaan obat dan kosmetika yang yang mengajukan sertifikasi halal. Kondisi ini membuat seorang muslim atau muslimah yang ingin melaksanakan salah satu ajaran Islam tidak semudah yang diinginkannya. Kalau seperti itu sebenarnya apa problemnya ? Bagaimana solusinya? Apakah kita cukup peduli?
Mungkinkah produk berbahan baku nabati (tumbuhan) haram atau subhat?
Pertanyaan tersebut terasa aneh di telinga sebagian kalangan.
Bahkan ada yang spontan menjawab, ”Jika bahan bakunya nabati ya halal dari mana haramnya”. Padalah makanan
bebahan nabati seperti
permen, jeli, snack, cokelat, permen lunak, marshmallow, dan aneka biskuit menjadi favorit bagi sebagian besar anak. Demikian juga berbagai minuman warna-warni dengan aneka rasa selalu menjadi prioiritas yang digemari. Makanan dan minuman tersebut dijajakan bebas di toko-toko dan warung-warung. Para produsenpun berlomba menawarkan aneka produk mereka dengan tampilan yang menarik dan warna-warni, serta menampilkan tokoh kegemaran anak-anak dalam kemasan dan memberikan iming-iming hadiah. Berbagai promosi juga ditampilkan di TV dengan gaya yang sangat disukai. Beberapa contoh produk pangan yang belum jelas kehalalan
dan keamanannya, antara lain :
Komentar (1) | Favorit (114) | Kutip artikel | Hits: 10060 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Saturday, 08 August 2009 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|