|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Thursday, 11 December 2008 |
|
Sucipto Mahasiswa Program Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB & Staf Pengajar Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP Universitas Brawijaya.
Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, produk dengan jaminan halal mestinya mudah didapat di Indonesia. Bahkan Mentan Anton Apriyantono di sela-sela The 2nd Indonesia International Halal Exhibition 3-6 Juli lalu menyatakan sudah selayaknya Indonesia menjadi leader sebab konsumen Muslim kita terbesar sehingga produk-produk di Indonesia harus halal.
Namun, fakta berbicara lain. Misalnya, dari data Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia) jumlah perusahaan kosmetika dan toiletries di Indonesia berjumlah 744, tetapi menurut LPPOM MUI yang bersertifikat halal baru 23 perusahaan (3 persen). Artinya, 97 persen produk kosmetika yang beredar di pasaran tidak jelas kehalalnnya.
Dari Data BPS (2006), industri pangan skala besar, sedang, kecil, dan rumah tangga sebanyak 1.209.172. Namun, menurut LPPOM MUI baru tersertifikasi halal 874 usaha (0.070 persen).Di sinilah RUU Jaminan Produk Halal (JPH) yang masuk program legislasi nasional (prolegnas) DPR menuai maknanya. Harapan umat Islam agar tenteram dengan mengonsumsi produk halal perlu didukung regulasi yang memadai mengenai mekanisme pemberian sertifikat bagi setiap produk. Untuk itu, MUI mendesak RUU JPH segera diselesaikan akhir 2008. "Kalau sudah rampung penerapan produk halal menjadi wajib, kalau saat ini sifatnya masih sukarela, " kata Ketua MUI H Amidhan.
Komentar | Favorit (84) | Kutip artikel | Hits: 689 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Friday, 15 May 2009 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Friday, 12 December 2008 |
|
Rabu, 3 Desember 2008 Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sangat potensial menjadi pusat produk halal dunia. Demikian diungkap Menteri Pertanian Anton Apriantono dalam 2nd Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (MIT-GT) International Halal Science Symposium 'Scientific Approach towards Halalness Authentication' Selasa (2/12) di IPB International Convention Center. "Indonesia memiliki sumberdaya memadai. Saat ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang menggodok Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Semoga bisa segera disahkan," kata Mentan. Menurut Mentan, penentuan kehalalan produk halal di Indonesia memiliki kekuatan lebih dibanding negara lain. Penentuan produk halal di Indonesia melibatkan berbagai komponen diantaranya: para ilmuwan, akademik, ahli agama, ulama, lembaga pengawas atau pemeriksa, birokrat, komisi fatwa dan sebagainya.
Komentar | Favorit (82) | Kutip artikel | Hits: 733 |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Monday, 19 May 2008 |
|
Oleh: dr Nurul Muzayyanah **
Sudah menjadi maklum, remaja memang sosok yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Kenapa?. Remaja masa pencarian jati diri yang mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok. Diusia remaja, akibat pengaruh hormonal, juga mengalami perubahan fisik yang cepat dan mendadak. Perubahan ini ditunjukkan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja memang masih memerlukan perhatian dan pengarahan. Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial. Ditambah lagi keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua. Komentar (9) | Favorit (155) | Kutip artikel | Hits: 50722 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Monday, 19 May 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Saturday, 02 August 2008 |
|
Oleh: Sucipto1 dan Sidik Fathul Qorib2 1)Staf Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP Universitas Brawijaya 2) Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP Universitas Brawijaya
Abstrak
Peningkatan konsumsi keju di Indonesia mendorong pertumbuhan produsen keju. Keju dibuat dengan beragam bahan dan proses. Karena Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia, maka kehalalan keju perlu ditegaskan untuk memenuhi hak dan melindungi konsumen. Metode Haram Analysis Critical Control Point (HrACCP) umumnya dilakukan oleh usaha yang siap secara manajemen menjalankan semua tahapan dalam rencana HrACCP. Karena usaha kecil keju ”X” belum siap maka penelitian diskriptif lebih diarahkan untuk identifikasi Halal Control Points (HCP) bahan baku, proses produksi, sanitasi, penyimpanan dan distribusi. Berdasar analisis diskriptif Halal Control Points (HCP) proses produksi keju Gouda antara lain: Bahan baku; terutama starter bakteri, rennet, dan pelapis keju yang masih impor dari Belanda dan belum bersertifikasi halal, Proses produksi; meliputi penambahan starter bakteri dan rennet untuk membantu proses penggumpalan dan pelapisan keju. Dari sini perlu ditelusuri lebih jauh kehalalan bahan yang digunakan, disusun standarisasi pemilihan dan penerimaan bahan baku, serta proses produksi untuk menunjang pelaksanaan sistem jaminan halal. Komentar | Favorit (115) | Kutip artikel | Hits: 1336 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Friday, 08 August 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
| |
|
|
Dipublikasikan oleh syarif
|
|
Wednesday, 02 July 2008 |
|
GLOBAL HALAL MARKET At this age, halal product is widely recognised to define safety and quality assurance. The halal consumers, which comprises of 1.5 billion Muslims around the globe, value the halal certification as a very important requirement. This figure includes over 180 million Muslims in Indonesia, 140 million in India, 130 million in Pakistan, 200 million in the Middle East, 300 million in Africa, 14 million in Malaysia and over 8 million in North America. Not only muslims live on halal product, demands are high even from people of diverse races and religions.
Komentar | Favorit (118) | Kutip artikel | Hits: 838 |
|
Terakhir kali diperbaharui ( Friday, 08 August 2008 )
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|