Menguak Peluang Pasar Produk Halal

Kebutuhan jaminan keamanan dan kehalalan produk meningkat seiring kesadaran hidup berkualitas secara fisik dan spiritual. Standar keamanan dan kehalalanpun ditetapkan secara nasional, regional, dan internasional. Bahkan, keduanya merupakan kebutuhan global. Peluang ini ditangkap melalui pencitraan diri sebagai pusat halal dunia. Meski lebih akhir, Indonesia baru saja menggelar International Halal Business & Food Expo (IHBF) pada 23–25 Juli 2010 (KONTAN, 19/07/10).

Acara serupa telah digelar Brunei Darussalam, Malaysia, Cina, dan Rusia. Tak ketinggalan, Thailand menggelar Halal Expo dan World Halal Congres, meski negerinya belum stabil. Semua ini menunjukkan ketatnya perebutan pasar produk halal dunia.

Produk halal bukan hanya makanan, tetapi juga obat, kosmetika, pembiayaan, bahkan wisata halal. Permintaan produk halal terus meningkat. Tak hanya dari negara mayoritas warganya muslim, namun juga dari negara minoritas muslim. Nilai transaksinya mencapai US$ 632 milyar per tahun (Time, Mei 2009).

Di Asia Tenggara, lebih dari 250 juta orang memeluk agama Islam. Malaysia, Indonesia, dan banyak negara lain memberi mandat mengimpor produk bersertifikat halal. Di negara-negara ini, halal merupakan simbul  kualitas keseluruhan bagi muslim maupun non muslim (Riaz, 2004).

Selain itu, berkembang pula permintaan produk halal dari Timur Tengah dan Eropa.  Ada sekitar 1,82 milyar muslim di dunia pada 2009 (Islamic Population, 2009). Diproyeksikan pada 2025, penduduk muslim 30% dari populasi dunia. Ini pasar potensial yang diperebutkan produsen dalam perdagangan antar negara.

            Meski Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia, tapi kesadaran kehalalan produk masih minim. Kasus dendeng babi, impor daging sapi bersertifikat halal palsu, dan vaksin Meningitis mencerminkan hal itu. Pembahasan RUU tentang Jaminan Produk Halal pun berhenti di tengah jalan.

Mestinya kita malu, di Singapura jika seorang berkerudung masuk restoran penyedia makanan haram, baru sampai pintu pun ditolak. Pemilik restoran akan bilang, “Maaf, ini bukan untuk muslim, silakan cari yang lain”.

Di Inggris berkembang industri kosmetika dan toko daging (butcher) halal. Sekarang hampir di seluruh kawasan belanja di Inggris mudah ditemukan butcher halal. Bagaimana restoran, kosmetika, dan penjual daging di negeri kita?

            Semestinya, Indonesia dapat memainkan dua peran.

Pertama, sebagai konsumen yang besar,  seharusnya ada regulasi penjamin produk halal di masyarakat. Pemerintah perlu melakukan law emforcement untuk  menjamin produk halal bagi warganya. Hal ini didukung lembaga sertifikasi halal LPPOM MUI, yang dipercaya dunia. Bahkan memimpin lembaga sertifikasi halal negara lain dalam World Halal Council.  Pemerintah dan produsen nasional perlu menyadari, banyak produsen luar negeri  ingin ekspansi pasar ke Indonesia. Karena itu, mereka merujuk lembaga sertifikasi halal Indonesia.

Dari sisi konsumen, tentu perlu edukasi terus-menerus bahwa produk halal tak perlu dipertentangkan muslim dan nonmuslim. Itu adalah hak konsumen. Bahkan halal simbul kualitas, aman bagi tubuh, dan menentrankan jiwa.

Kedua, dengan berlimpahnya sumber daya alam (SDA), Indonesia berpeluang menjadi produsen produk-produk utama dunia. Jika produk itu dilengkapi sertifikat halal dan Indonesia mampu mencitrakan diri sebagai pusat halal dunia, maka menjadi brand image  produk Indonesia di manca negara. Karena itu, selayaknya produsen nasional menyadari peluang ini. Hal ini juga akan berimbas meningkatkan kesempatan kerja masyarakat. Jangan kalah cepat dari produsen negeri tetangga.

Produsen perlu diedukasi bahwa sertifikasi halal menguntungkan, terlepas mereka muslim atau nonmuslim. Bahkan perusahaan multinasional seperti Mc Donald dan jaringan japanese fast food terbesar di Indonesia Hoka-Hoka Bento lebih dipercaya masyarakat setelah bersertifikat halal.

Jika potensi SDA, ragam kuliner, budaya, dan keindahan alam negeri ini dipadukan dalam wisata halal, maka akan menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan Timur Tengah, Dubai, dan Eropa tentu akan tertarik. Peluang  memperbesar devisa akan terbuka.

Tak terelakkan, pencitraan diri sebagai pusat halal dunia diperebutkan oleh Indonesia, Malaysia, bahkan Brunei. Namun dunia akan melihat potensi, kompetensi, dan karya nyata  setiap negara. Rasanya Indonesia berpeluang besar, jika kita serius.

(Sumber: Opini Sucipto, STP. MP. Peneliti Teknologi Industri Pertanian (TIP) FTP Universitas Brawijaya di Harian Kontan, 3 Agustus 2010)

One Response to “Menguak Peluang Pasar Produk Halal”

  1. Mr WordPress 22/12/2011 at 8:04 am #

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in and view the post's comments. There you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply